LANGKAH KECIL SEORANG PENCINTA LINGKUNGAN GUGAH MASYARAKAT UNTUK MENGUBAH LIMBAH RUMAH TANGGA

IMG_20251220_122120

 

DEMAK – Muhamad Rifa’i merupakan sosok pecinta lingkungan terutama keberadaan limbah rumah tangga yang menurut dirinya membawa dampak bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan. Berangkat dari hal tersebut, dirinya berupaya memberi pemahaman ke masyarakat lingkungannya, yakni di Desa Prigi kecamatan Kebonagung, Demak. Untuk memberi contoh tersebut, dirinya mulai mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik. Gerakan-gerakan kecil tersbut, selalu ia dokumenkan melalui video-video amatir, tujuannya untuk pamer melainkan untuk memotivasi warga sekitar lingkungannya akan bahaya limbah.

tak pernah membayangkan sebuah lomba video bisa menjadi jalan menyampaikan aspirasi warganya langsung ke pimpinan DPRD. Warga Desa Prigi, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak itu bahkan mengaku sempat tak tertarik mengikuti Lomba Video Kreatif yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya. Namun, pandangannya berubah ketika mengetahui lomba tersebut melibatkan langsung Ketua DPRD Demak. “Awalnya saya tidak tertarik, tetapi karena salah satu penyelenggaranya adalah Ketua DPRD Demak, saya langsung ikut,” tutur Rifa’i, peraih Juara III lomba tersebut, Sabtu (20/12/2025)

Bagi Rifa’i, keikutsertaannya bukan soal hadiah. Lebih dari itu, lomba video menjadi medium untuk menyampaikan aspirasi warga desa terkait gerakan pengelolaan sampah yang selama ini mereka jalankan secara mandiri. “Jujur bukan karena hadiah, tetapi agar aspirasi kami bisa didengar dan ada dukungan untuk gerakan pengelolaan sampah yang kami lakukan di desa-desa,” ungkapnya.

Dalam video yang dia kirimkan, Rifa’i mengangkat pengelolaan sampah berbasis komposter, sebuah gerakan sederhana yang telah dijalankan warga Desa Prigi selama sekitar dua tahun terakhir. Saat ini, setidaknya 60 keluarga telah menerapkan sistem tersebut di tingkat rumah tangga

Tujuan utamanya sederhana, tetapi berdampak besar agar sampah selesai di rumah dan tidak menjadi persoalan lingkungan. “Gerakannya sangat sederhana. Kami sosialisasi ke warga, lalu memberi bantuan wadah sampah organik. Dari situ ibu-ibu rumah tangga memilah sendiri sampahnya,” jelasnya

Sampah organik dimasukkan ke wadah khusus untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah kering dipisahkan. Dengan cara ini, limbah dapur tidak lagi menumpuk atau mencemari lingkungan sekitar.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Gerakan pengelolaan sampah di Desa Prigi kini telah mendapatkan dukungan dari pemerintah desa, bahkan Prigi menjadi desa percontohan di Kecamatan Kebonagung. Meski demikian, Rifa’i menyadari jangkauan gerakan ini masih terbatas. “Kami berharap ada dukungan dari Ketua DPRD Demak agar gerakan ini bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.

Harapan itu mendapat respons positif. Ketua DPRD Demak, Zayinul Fata, menyatakan pihaknya akan melakukan kunjungan langsung ke desa-desa para pemenang, khususnya juara I, II, dan III. “Usai acara ini, kami akan turun ke desa, berdiskusi langsung dengan masyarakat untuk menyerap aspirasi dan menjadikannya acuan dalam pengambilan kebijakan di level kabupaten,” kata Zayin. Dia juga berharap sembilan nominator lomba video kreatif dapat berperan sebagai duta pemberdayaan masyarakat, sehingga gagasan-gagasan yang telah direkam tidak berhenti pada lomba semata, tetapi berlanjut dalam pendampingan dan kebijakan nyata. “Baru dibuka satu bulan saja sudah banyak gagasan yang berhasil dipotret. Apalagi jika dibuka lebih lama, tentu akan lebih banyak cerita pemberdayaan desa yang muncul. Karena itu, kami berharap lomba seperti ini bisa diadakan setiap tahun,” pungkasnya. Bagi Rifa’i, raihan juara bukanlah akhir. Justru dari sinilah ia berharap cerita kecil dari Desa Prigi dapat tumbuh menjadi kebijakan besar—demi lingkungan yang lebih bersih dan desa yang lebih berdaya (JD)